Buku ini saya baca ketika tahun 2009, waktu itu dalam perjalanan pertama kali backpacking dari Jogja ke Bali. Berhubung teman saya mabok perjalanan, maka kerjaannya sepanjang jalan adalah tidur zZZZZzz…. Daripada bengong tidak punya teman bicara, akhirnya saya meminjam bukunya dia berjudul The Little Prince.
Dari sampulnya aja dah kelihatan kalau ini bukunya anak-anak, tapi setelah dibaca ternyata ini bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk orang dewasa.
Sekarang pengeeen banget baca ulang buku ini, tapi sayang sampai saat ini belum juga saya temukan..…L. Meski begitu, Alhamdulillah bagian yang paling aku suka dalam buku ini juga diceritakan dalam buku “SHEILA” yang ditulis oleh Torey Hayden, hal.181-182…
“Kamu sama sekali tidak seperti bunga mawar milikku” katanya pada bunga-bunga. “Jadi kamu tidak ada artinya. Tidak ada yang menjinakkan kamu, dan kamu tidak menjinakkan siapa-siapa. Kamu seperti rubahku ketika pertama kali aku mengenalnya. Dia hanya seekor rubah seperti seratus ribu rubah lainnya. Tapi aku telah menjadikannya temanku, dan kini dia menjadi satu-satunya di seluruh dunia” dan mawa-mawar itu sangat malu.
“Kamu cantik, tapi hampa”, lanjutnya “tidak ada yang bersedia mati demi kamu. Tentu orang yang melihat akan mengira bunga mawarku tampak persis seperrti kamu – mawar yang kumiliki. Tapi hanya dialah yang lebih penting daripada ratusan ribu mawar lain: sebab dialah yang kulindungi dibalik tabir, karena demi dialah aku membunuh ulat (kecuali dua atau atiga ekor diantara mereka yang kami selamatkan agar menjadi kupu-kupu); karena dialah aku mau mendengarkan, ketika dia mengomel, atau membual, atau bahkan kadang-kadang ketika dia tidak bilang apa-apa,. Karena dia adalah mawarkau”
Dan dia kembali untuk menemui rubah.
“Selamat tinggal,” katanya.
“Selamat jalan,” kata rubah. Dan sekarang inilah rahasiaku, rahasia yang sangat sederhana: Hanya dengan hatilah orang bisa melihat dengan benar; hal yang terpenting itu tidak dapat dilihat dengan mata.”
“Apakah yang terpenting yang tidak dapat dilihat oleh dengan mata?” ulang pangeran kecil supaya di yakin akan bisa mengingatnya.
“Waktu yang telah kamu habiskan untuk mawarmu itulah yang membuat mawarmu begitu penting.”
“Waktu yang telah aku habiskan untuk mawarku..” kata pangeran kecil, supaya dia yakin akan mengingatnya.
“Manusia telah melupakan kebenaran ini,” kata rubah.
“Tapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu bertanggung jawab, selamanya, terhadap apa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggung jawab terhadap mawarmu…”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar