Sabtu, 01 Oktober 2011

Mie kuwah atau Mikwah


Kalau banyak orang bilang masa-masa sekolah yang paling indah adalah masa-masa di SMA, maka beda halnya dengan saya. Bagi saya masa Mts di pesantren adalah yang terindah.
Sebagai seorang santriwati baru, bahasa Arab menjadi momok tersendiri bagi saya. Bagaimana tidak, mufrodaat (vocab) saja belum banyak yang diketahui tapi sudah dipaksa mempratikkan. Alhasil bahasa Arab kamipun kacau balau. Ada yang berbahasa Arab bercampur dengan bahasa Indonesia, atau ngomong bahasa Arab tetapi memakai logat bahasa daerah masing-masing, dan yang lebih sering adalah bahasa Arab yang berasal dari bahasa Indonesia yang di Arab-Arabkan hihihi…J
Kebanyakan kata  benda dalam bahasa Arab diakhiri dengan ‘un’ atau ‘tun’.
Misalnya:
Sabbuurotun = papan tulis
Kurroosatun = buku tulis
Tilmiidzatun = murid
Qolamun        = pena
kursiyyun       = kursi
masjidun        = masjid
Mandiilun       = oops…bukan berarti mandiilun adalah  mandi tapi serbet J
Maka ketika kami belum tau kosa kata dalam bahasa Arab itu apa, maka tinggal kami cocok2in saja ke dalam bahasa Arab, alias Indonesia yang diarabk-arabkan. Mantaap hehe…
 Misalnya
rambut            = sa’run, maka
rambutan       = sa’rutan.
Akibat  seringnya kami mencampurkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab atau bahasa Indonesia yang diarab-arabkan terkadang malah jadi cerita lucu…
Ketika saya tinggal di asrama Daarul Mubarok yang berisikan 40 orang yang berasal mulai dari kelas 2 sampai dengan kelas 6, terjadilah peristiwa ini..*hihi lebay bgt yak kayak peristiwa apa aja gitu…J
Kebenaran percakapan ini terjadi diantara dua Fatma yang berbeda kelas.
Fatma III         : ukh…asta’ir mikwah.. (dek, pinjam seterikaan....)
Fatma I           : Mie kuwah???  Mafii ukh.. lakin mie goreng maujuud.
(mie kuwah??? Gak punya yuk, tapi klo mie goreng punya…) lol..=))

Setelah setahun di pesantren, bahasa Arab kamipun sudah agak lumayan. Namun dalam urusan dialek, teteeeep menggunakan dialek daerah masing-masing.
Mulai dari ngomong bahasa Arab tapi menggunakan dialek bahasa Palembang, Medan, Jawa, Jambi dan lebih banyak lagi Sekayu.
Misalnya:
limaadza anti hadzihi taghdob taghdob ma’i?? (kenapa marah-marah ke saya?)
yang diucapkan dengan dialek bahasa sekayu…
ehmmmmmm…. Anti hadzini… (ehmmmm….. kau ini)
diucapkan dalam dialek bahasa Palembang…
illa aina ukhtii??? (mau kemana kak???) namun pakai dialek Batak…J

Mama juga Gak Pakai Celana




Orang bilang anak-anak adalah peniru ulung, apa yang biasa dilakukan oleh orang sekitarnya sering banget tanpa disadari sering ditiru oleh anak. Bahkan beberapa iklan di televisi pun terinspirasi oleh kebiasaan anak meniru orang tua-nya. Anak-anak bisa meniru hanya dengan memperhatikan orang-orang sekitarnya.
Meniru adalah aktivitas penting untuk mengasah berbagai kemampuan anak, mulai dari kemampuan berbahasa sampai bersosialisasi. Anak-anak memang seperti spons basah yang mudah menyerap apa saja.
Meskipun sebenarnya kita sering beranggapan bahwa kemampuan meniru identik dengan anak batita tapi sebenarnya kemampuan meniru sudah terihat sejak usia 2 bulan, tapi sering luput dari perhatian.
Selain pandai  meniru, anak-anak juga guru jujur terbaik di dunia. Kalau mau nangis ya nangis, habis nangis ketawa lagi. Marah kemudian lansung melupakan dan memaafkan. Mereka selalu berpikir sederaha.
Beberapa bulan yang lalu saya main ke rumah kakak saya di Bengkulu. Kakak saya memiliki dua anak. Anak pertama berumur 6 tahun dan yang kedua 3 tahun. Anak kedua kakakku ini sering memanggil namanya sendiri dengan panggilan adek.
Ayuk ipar saya (ayuk adalah panggilan kakak perempuan dalam bahasa Palembang) sangat memperhatikan kebersihan pakaian dalam saat sholat, terutama ketika mengalami keputihan.
Suatu waktu ketika saya akan sholat, Nici 3 tahun mo ikutan sholat juga.
Nici     : ‘teh… adek mo sholat juga…’ (singkatan dari tante namun pengucapannya seperti air teh..)
Me       : ‘ayok…, pake jilbabnya dulu ya..’
Nici     : ‘ia’.    Si adek langsung menuju arah lemari pakaiannya dan mengambil jilbab kesayangannya, jilbab jeluk katanya. Kenapa dinamai jilbab jeluk? Karena warna jilbab tersebut berwarna orange. Warna orange = warnanya jeruk.
Ketika kita dah siap-siap mo sholat, eh..tiba-tiba si adek melepas celananya.
Saya bingung kenapa dia melepas celananya….
Me       : ‘deeek, kenapa celananya dilepas???’
Nici     : dengan wajah sok seriusnya dia malah bilang gini
“mama tuu teeeh, klo sholat buka celana…
Me       : Gubrak!!!! 
terang aje saya gak bisa nahan ketawa lagi. Gimana bisa saya nahan ketawa coba ngelihat nici  seperti itu, pakae jilbab jeluk yang ada telinganya, pake baju panjang, manis banget kan atasnya tapiiiiiii cuba lihat ke bawahnya??? Gak perlu ditanyain dach.  Gak pake celana sama sekali. Trus ketika ditanya kenapa begitu e…dia jawab dengan santainya klo mama sholatnya gak pake celana…hihihi….Nici :D
Me       : ‘Adeeek, mama tu memang terkadang buka celana dalamnya klo mo sholat, tapi mama kan pake celana yang baru lagi. Atau meski ndak pake celana dalam mama tetep kok.. pake celana luar’…J
Emang tingkahnya itu seringa banget bikin ketawa.
Sebelumnya juga ada kejadian lucu.
Ketika di sana saya tidurnya sama mereka berdua, jadi klo mo sholat sering banget mereka ikutan.
Ketika  berdoa, saya berdoa’a pelan2 dulu. Maksudnya biar tu kurcaci gak denger apa yang saya minta. Malu dunk klo saya minta jodoh trus didenger mereka hihihi… setelah itu baru dengan suaru agak keras untuk ngajarin do’a ke mereka berdua.
Ketika saya masih komat-kamit, si via dan nici juga ikut komat kamit.
Selesai doa’a saya tanya ke mereka.
Me       : ‘yuk via, tadi do’anya apaan?’
Via      : ‘ya Alloh…moga2 aku diterima di SD IT’.
 Maklum die baru ikut tes masuk sekolah Islam Terpadu. Gara-gara ntu tes dienya rajin banget sholat magribnya.
Me       : ‘klo adek do’anya apa tadi???’
Nici     : ‘klo adek do’anya..Ya Alloh dulen…Ya Alloh jeluk…Ya Alloh semangko…’
Huahahaha…. dasar si adek ayak-ayak wae. Jujur banget mah die. Mentang2 die doyan banget ma buah, pintaanya ke Alloh  cuma minta duren, jeruk  sama semangka. Simple banget…
Wah ni do’a menginspirasi, gue jadi kepengen do’anya kayak gini.
Ya Alloh minta duit 15 juta untuk modal buka usaha hihihi…J

The Little Prince


Buku ini saya baca ketika tahun 2009, waktu itu dalam perjalanan pertama kali backpacking dari Jogja ke Bali. Berhubung teman saya mabok perjalanan, maka kerjaannya sepanjang jalan adalah tidur zZZZZzz…. Daripada bengong tidak punya teman bicara, akhirnya saya meminjam bukunya dia berjudul The Little Prince.
Dari sampulnya aja dah kelihatan kalau ini bukunya anak-anak, tapi setelah dibaca ternyata ini bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk orang dewasa.
Sekarang  pengeeen banget baca ulang buku ini, tapi sayang sampai saat ini belum juga saya temukan..…L. Meski begitu, Alhamdulillah bagian yang paling aku suka dalam buku ini juga diceritakan dalam buku “SHEILA” yang ditulis oleh Torey Hayden, hal.181-182…

“Kamu sama sekali tidak seperti bunga mawar milikku” katanya pada bunga-bunga. “Jadi kamu tidak ada artinya. Tidak ada yang menjinakkan kamu, dan kamu tidak menjinakkan siapa-siapa. Kamu seperti rubahku ketika pertama kali aku mengenalnya. Dia hanya seekor rubah seperti seratus ribu rubah lainnya. Tapi aku telah menjadikannya temanku, dan kini dia menjadi satu-satunya di seluruh dunia” dan mawa-mawar itu sangat malu.
“Kamu cantik, tapi hampa”, lanjutnya “tidak ada yang bersedia mati demi kamu. Tentu orang yang melihat akan mengira bunga mawarku tampak persis seperrti kamu – mawar yang kumiliki. Tapi hanya dialah yang lebih penting daripada ratusan ribu mawar lain: sebab dialah yang kulindungi dibalik tabir, karena demi dialah aku membunuh ulat (kecuali dua atau atiga ekor diantara mereka yang kami selamatkan agar menjadi kupu-kupu); karena dialah aku  mau mendengarkan, ketika dia mengomel, atau membual, atau bahkan kadang-kadang ketika dia tidak bilang apa-apa,. Karena dia adalah mawarkau”
Dan dia kembali untuk menemui rubah.
“Selamat tinggal,” katanya.
“Selamat jalan,” kata rubah. Dan sekarang inilah rahasiaku, rahasia yang sangat sederhana: Hanya dengan hatilah orang bisa melihat dengan benar; hal yang terpenting itu tidak dapat dilihat dengan mata.”
“Apakah yang terpenting yang tidak dapat dilihat oleh dengan mata?” ulang pangeran kecil supaya di yakin akan bisa mengingatnya.
“Waktu yang telah kamu habiskan untuk mawarmu itulah yang membuat mawarmu begitu penting.”
“Waktu yang telah aku habiskan untuk mawarku..” kata pangeran kecil, supaya dia yakin akan mengingatnya.
“Manusia telah melupakan kebenaran ini,” kata rubah.
“Tapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu bertanggung jawab, selamanya, terhadap apa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggung jawab terhadap mawarmu…”