Kalau banyak orang bilang masa-masa sekolah yang paling indah adalah masa-masa di SMA, maka beda halnya dengan saya. Bagi saya masa Mts di pesantren adalah yang terindah.
Sebagai seorang santriwati baru, bahasa Arab menjadi momok tersendiri bagi saya. Bagaimana tidak, mufrodaat (vocab) saja belum banyak yang diketahui tapi sudah dipaksa mempratikkan. Alhasil bahasa Arab kamipun kacau balau. Ada yang berbahasa Arab bercampur dengan bahasa Indonesia, atau ngomong bahasa Arab tetapi memakai logat bahasa daerah masing-masing, dan yang lebih sering adalah bahasa Arab yang berasal dari bahasa Indonesia yang di Arab-Arabkan hihihi…J
Kebanyakan kata benda dalam bahasa Arab diakhiri dengan ‘un’ atau ‘tun’.
Misalnya:
Sabbuurotun = papan tulis
Kurroosatun = buku tulis
Tilmiidzatun = murid
Qolamun = pena
kursiyyun = kursi
masjidun = masjid
Mandiilun = oops…bukan berarti mandiilun adalah mandi tapi serbet J
Maka ketika kami belum tau kosa kata dalam bahasa Arab itu apa, maka tinggal kami cocok2in saja ke dalam bahasa Arab, alias Indonesia yang diarabk-arabkan. Mantaap hehe…
Misalnya
rambut = sa’run, maka
rambutan = sa’rutan.
Akibat seringnya kami mencampurkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab atau bahasa Indonesia yang diarab-arabkan terkadang malah jadi cerita lucu…
Ketika saya tinggal di asrama Daarul Mubarok yang berisikan 40 orang yang berasal mulai dari kelas 2 sampai dengan kelas 6, terjadilah peristiwa ini..*hihi lebay bgt yak kayak peristiwa apa aja gitu…J
Kebenaran percakapan ini terjadi diantara dua Fatma yang berbeda kelas.
Fatma III : ukh…asta’ir mikwah.. (dek, pinjam seterikaan....)
Fatma I : Mie kuwah??? Mafii ukh.. lakin mie goreng maujuud.
(mie kuwah??? Gak punya yuk, tapi klo mie goreng punya…) lol..=))
Setelah setahun di pesantren, bahasa Arab kamipun sudah agak lumayan. Namun dalam urusan dialek, teteeeep menggunakan dialek daerah masing-masing.
Mulai dari ngomong bahasa Arab tapi menggunakan dialek bahasa Palembang, Medan, Jawa, Jambi dan lebih banyak lagi Sekayu.
Misalnya:
limaadza anti hadzihi taghdob taghdob ma’i?? (kenapa marah-marah ke saya?)
yang diucapkan dengan dialek bahasa sekayu…
ehmmmmmm…. Anti hadzini… (ehmmmm….. kau ini)
diucapkan dalam dialek bahasa Palembang…
illa aina ukhtii??? (mau kemana kak???) namun pakai dialek Batak…J



